Halaman

Senin, 16 Juli 2012

Cerita Seorang Teman


Temanq, kamu adalah teman terbaikq. Mungkin kamu gak akan pernah menyadarinya, tapi yg pasti kau adalah teman istimewa dalam hidupq. Yg memberi hidupq banyak sekali warna, hingga menangis, tertawa, terluka pernah kita rasakan bersama. Ah kau, aq merindukanmu.

hari ini, aq ingin bercerita, menceritakan sosok teman yg sangat istimewa, sangat berarti hingga pernah aq bermimpi bahwa aq akan memilikinya suatu hari nanti. Namun semuanya hanyalah mimpi, dan aku harus kembali bangun dan kembali pada kehidupan nyataq, melanjutkan hidup dg mimpi2 bersamanya yg tak mungkin bisa q jadikan kenyataan.

Taukah kamu? Siapa motivator terbesarq sampai akhirnya aku bisa menjadi seperti ini (selain orang tua dan keluargaq)? Yap, jawabannya adalah kamu. KAMU!!

Masih q ingat secara jelas pada masa SMA dulu, saat aq merasakan perasaan berbeda terhadapmu, perasaan yg q anggap hanya sebatas rasa kagum terhadap seorang teman baru, karena keceriaannya, karena senyumnya, dan karena kebaikannya. Saat itu aq mengacuhkan perasaanq, ku pikir itu hanyalah perasaan sesaat yg tak mungkin terus ada, selain karena aq tak mengenalmu, tapi jg karena kita beda sekolah, pertemuan itu tidak akan pernah sering terjadi.

Sampai pada suatu saat, aq merasakan perasaan itu cukup besar, saat kami berada dalam suatu suasana yg sama,suasana yg begitu menyenangkan. Saat itu aq mulai sadar, perasaan itu cukup besar untuk diabaikan. Tapi aq bisa apa? Aq hanya bisa memandangmu diam2, menikmati wajahmu sendiri tanpa ada yg mengetahuinya. Hingga pada hari itu, ada seorang temanq, yg satu sekolah denganmu, secara tidak sengaja bercerita tentang kamu. Dia mengatakan bahwa orang2 seperti kamu adalah tipe orang yg memandang seseorang hanya dari otaknya, bagaimana seseorang itu bisa terlihat sangat manis dengan otaknya yg cemerlang. Jangankan pada orang2 diluar sekolahmu, pada teman sekolahmu sendiripun kamu enggan menyapa, jika dia bukan tipe orang yg bisa dianggap layak untuk berteman denganmu.

Mendengar cerita itu, perih rasanya. Orang yg q kagumi seperti itu, tp perasaan suka yg mungkin menjurus pada perasaan sayang itu menolak untuk pergi dari kehidupanq. Terlebih, pernah q lihat kamu pulang sekolah dg seorang gadis cantik yg q yakini sebagai pacar kamu (dan memang benar) sedang ngambek sama kamu, sedih rasanya melihat tingkahmu yg kerepotan mengatasi ulahnya, hingga akhirnya waktu itu keluar air mata, yg tak sempat q cegah. Seseorang berkata bahwa cinta itu merdeka. Bebas memilih tumbuh dan berkembang di tempat yg diinginkannya, aq tak bisa menngusirnya, aq tak mampu mematikannya, aq tak kuasa membusukkannya, sebab dia memiliki rohnya sendiri. Dari situlah, aq mencoba berubah demi kamu.

Berubah. Haha konyol kedengarannya. Tapi demi kamu aq rela, aq rela melakukan apapun untukmu. Waktu itu aq merasa tidak akan pernah bisa jadi temanmu, karena aq merasa belum pantas. Aq merasa kamu gak akan mau menerimaq untuk jd temanq. Akhirnya aq belajar keras, aq belajar agar aq bisa setara dengan orang2 yg kau anggap layak dijadikan sebagai teman. Aq ingin meraihmu, aq ingin membuktikan bahwa aq pantas berteman dgmu. Well, akhirnya selain belajar dr ilmu yg q terima dr sekolah, aq jg belajar dr semua orang. Belajar menganalisis orang, belajar membaca pikiran orang dr sorot matanya, belajar dunia luar dan berbagai bahasa asing dr saudaraq yg kuliah di Harvard. Gak terlalu berhasil memang, karena aq gak banyak bisa, tp setidaknya sedikit2 aq mengerti. Sampai pd kelulusan SMA, aq mengikuti SNMPTN tanpa persiapan yg berarti. Jujur, aq memang enggan mengikuti les sana sini yg - aq yakin – banyak siswa ikuti karena mereka ingin diterima di PTN yg mereka inginkan (sebelumnya, aq pernah terobsesi untuk masuk Undip, tp karena terlalu jauh dr jangkauan orang tua, q putuskan untuk mundur). Aq tidak mengikutinya karena aq ingin menguji seberapa besar kemampuan yg telah q miliki, bukan q sombong, aq hanya ingin membuktikan bahwa yg q pelajari selama ini tidak pernah q sia2kan, pengorbananq buat kamu ada hasilnya. Dan ya, aq berhasil. Meski banyak yg mengatakan bahwa itu bisa didapatkan karena ‘faktor luck’, aq gak peduli, setidaknya aq sudah bisa membuktikan bahwa aq bisa setara dg kamu. Semua yg q lakukan untukmu, demi kamu. Agar kamu mau jadi temanq, agar kamu mau tau keberadaanq, dan jika kamu mendengar namaq disebut oleh seseorang, kau mau berkata ‘dia itu temanq’. Aq hanya ingin membuktikan bahwa q juga pantas berteman denganmu, layak bisa kau sejajarkan dengan teman2mu yg lain. Cinta memang membuat orang mempunyai beragam alasan untuk meraih sesuatu.

Aq memang gak pernah berniat untuk mengganggu hidupmu, dari dulu waktu kita masih SMA, aq hanya ingin mengagumimu dlm hati, dan membuktikan pada diri sendiri bahwa ya setidaknya aq bisa menyamakan derajat kita. Hingga akhirnya, kau datang dalam hidupq tanpa harus q undang. Senang? Pastinya. Aq gak pernah percaya yg namanya kebetulan, itu pasti takdir. Mungkin Tuhan sedang berbaik hati untuk memberiq hasil karena jerih payahq selama ini, Tuhan memang tidak pernah tidur. Dengan identitas yg q miliki, sebenarnya aq berniat sedikit bercentil ria kepadamu, sampai aq tau bahwa ternyata kau telah ‘bertunangan’. Hancur harapanq, tp ya sudahlah mungkin memang hanya bisa berteman, setidaknya itu sudah lebih dari cukup buatq.

Lalu q ucapkan terima kasih atas kehadiranmu kala itu, q pikir itu hanya sekedar basa basi yg tak mungkin dibalas olehmu. Tp prediksiq salah, kau membalasnya, mengajakq berteman, menjadikanq sebagai pendengar yg baik untuk masalahmu dg tunanganmu, hingga akhirnya aq terseret dalam kubangan cinta yg tak pernah bayangkan. Bukan q gak pernah berniat untuk mengakhirinya, tapi aq terlalu takut untuk kehilangan cintamu, aq terlalu takut kau akan pergi meninggalkanq, membuangq tanpa berpikir dua kali, seperti sekarang. Sudah pernah q coba berkali2, tapi perasaan ‘sayang’mu yg q pikir begitu polos dan tulus, membuatq merasa tertekan, antara tak ingin menyakiti dan kehilangan. Itulah yg menyebabkan q sering uring2an terhadapmu, inginq kau pergi tanpa harus tau identitasq, tp q rasa itu terlalu jahat, dan aq bukanlah orang jahat. Aq bukanlah pengecut yg gak mau mempertanggungjawabkan apa yg telah q perbuat, meski sakit harus q hadapi.

Q ulur waktu sampai akhirnya aq merasa siap, tp hingga detik ini aq tak pernah siap untuk kehilanganmu. Q pikir kau seorang yg nyaris sempurna. Bisa menjadi teman yg rela mendengar keluh kesahq, seorang sahabat yg berbagi suka dan duka bersama, bertengkar saat kita tak bisa sepaham, menasihatiq sebagai kakak, dan seorang kekasih yg memang kamulah yg q inginkan dr dulu. Sempurna yg manis, indah yg sederhana, hangat yg suam, hingga membuatq yakin lelaki ini memang layak untuk dicintai. Aq benar2 menginginkan kamu, lebih dr seorang teman.

‘tapi kini tak mungkin lagi, bagimu semua sudah tak berarti’, lagu ini, sangat menggambarkan jelas isi hatiq sekarang, sangat jelas dan gamblang. Saat kamu ternyata lebih memillih perempuan lain (aq lebih suka memanggilnya she dr pd namanya sendiri), memilih untuk menjauh dariq, bahkan menjawab SMSq saja enggan, dan q yakin kini kau telah membuang nomorq. Kau hanya menganggapq sebagai seorang pembohong yg mempermainkanmu, padahal gak seperti itu, tapi aq jg gak bisa memaksamu mengerti posisiq. Kau bebas berpikir seperti apa aq dimatamu. Dan aq, aq hanya bisa menyadari kenekatanq yg tolol untuk masuk lebih dalam ke dalam cintamu yg sebenarnya gak pernah ada untukq. Bodoh memang, tp salahkah jika aq hanya ingin mengikuti kata hati? Aq hanya ingin mengenal orang yg q sayang lebih dekat, berusaha menyangkal apa yg pernah diucapkan seorang teman, bahwa orang yg q sayang secara diam2 bukan seorang manusia picik yg pikirannya sempit seperti yg dia katakan, hanya itu.

Tapi kini, kamu memang gak mau berhubungan denganq lagi. Fine, kamu gak perlu menghindariq, karena aq cukup tau diri untuk tak kan masuk dalam kehidupanmu lagi. Jika kamu gak mau aq hubungi, aq gak akan menghubungimu asal kamu memang merasa nyaman karenanya. Jika terkadang aq masih ngeyel, itu karena aq masih ingin jd temanmu, jika kamu gak mau aq berharap padamu, aq akan menghapus harapan itu, aq tak kan menyinggung masalah hati lagi dgmu secara langsung. Aq hanya ingin kau tetap jadi temanq, teman yg mau mendengarq, teman yg mau memberiq nasihat, teman yg bisa q ajak berbagi saat aq bahagia, hanya itu. Tp sepertinya, aq memang gak pernah pantas jadi temanmu. Mungkin memang masih banyak kriteria yg gak q punya untuk bisa kau sebut sebagai ‘teman’.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar