Halaman

Rabu, 02 Januari 2013

CERPEN: Senja

kamu dimana?”
kamu balik arah, aku dibelakangmu. Pake baju ungu” jawab Bulan sambil memberi tanda pada lawan bicaranya.
keringat dingin mengucur. Detak jantung Bulan tak karuan menunggu kedatangan Bintang yang tak kurang dari seratus meter. Bulan tak kuasa menahan gugup, ia berbalik membelakangi Bintang yang kian mendekat dengan gemetar.
permisi” sapa Bintang.
Bulan tak menjawab, namun ia langsung menoleh ke sumber suara.
Bulan bisa merasakan keterkejutan Bintang. Bulan takut. Tak ada kata yang bisa keluar dari mulutnya, selain ‘maaf’.
Bulan janjian bertemu dengan Bintang. Teman yang ia kenal semasa SMA dan dekat dalam dua tahun ini. Pertemuan tak disengaja dunia maya. Identitas Bulan yang samar. Mempertemukan cinta Bulan yang telah tersimpan rapat selama ini. Tak pernah ada yang tau, hingga takdir, berkonspirasi untuk membantu Bulan menyatakannya.
maaf” ucap Bulan. Hanya satu kata itu yang bisa diucapkan Bulan. Tak ada yang lain. Memang hanya itu yang berputar di otaknya.
kenapa kamu melakukannya?” Tanya Bintang. Tenang. Namun penuh dengan amarah.
Haruskah aku menceritakan yang sebenar-benarnya? Tuhan… Bulan bingung, akankah Bintang mau percaya? Atau dia akan marah?
maaf Bintang. Kamu marah?” Tanya Bulan takut.-takut
nggak, Cuma kecewa. Dua tahun itu gak lama, Lan” nadanya memang tenang. Tapi mata itu, tak lagi teduh.
Glek. Kalau bisa saat itu juga Bulan ingin pergi dari hadapan Bintang. Mengerti bahwa ia telah mengecewakan orang yang ia sayang.
kenapa kamu gak jujur dari awal? Waktu kita awal kenal. Kenapa kamu ngaku-ngaku sebagai Bona” Tanya Bintang lagi karena tak ada jawaban dari Bulan.
Apakah akan selama ini jika aku jujur dari awal? Batin Bulan.
aku nggak ngku-ngaku sebagai Bona. Itu identitasku di ‘dunia’ itu. Bahkan jauh sebelum aku mengenalmu. Kamu yang mencoba masuk dalam duniaku. Menjebakku dalam dunia yang sebenarnya bukan duniaku. Dan ketika aku menyadarinya, aku sudah nggak bisa lepas dari kamu” ucap Bulan. Matanya memanas
jadi kamu menyalahkan aku? Mana bisa aku tau kalau dia adalah kamu. Aku bukan paranormal yang bisa melihat sesuatu lebih dalam.” Ucap Bintang. Geram.
dan aku juga bukan Tuhan yang bisa mengatur apa yang akan terjadi. Aku hanya mengikuti kata hatiku. Mengikutinya tanpa bertanya kemana ia membawaku.” Jawab Bulan. Gemetar menahan air matanya.
dan kata hatimu membawaku mempermainkan perasaanku? Hebat.” Bintang sarkastis.
aku tidak pernah mempermainkanmu. Aku serius dengan perasaanmu. Aku berbohong, aku akui itu. Tapi aku tak pernah membohongimu mengenai perasaanku” ucap Bulan sambil menyeka bulir-bulir air matanya.
maaf, bagiku yang namanya teman akan tetap menjadi teman” ucap Bintang akhirnya setelah lama terdiam. Sambil beranjak, meninggalkan Bulan.
maafkan aku. Aku yang bodoh. Membiarkanmu tersakiti olehku.” Isak Bulan melihat kepergian Bintang.
"Aku merah dan kau kuning. 
Kita bertemu menjadi jingga.
 Menjadi warna senja yang terluka" (Bernard Batubara)
Senja itu, jadi mimpi buruk untuk Bulan. Harus merelakan orang yang ia sayang pergi. bahkan mungkin untuk selamanya. seseorang yang dulu menganggapnya sebagai Bona. Pernah mencintainya sebagai Bona. Bukan Bulan.
*
Setahun kemudian…..
Bulan berjalan menyusuri taman tempat bertemunya dengan Bintang setahun yang lalu. Mengingat segala hal tentang sosok Bintang yang telah menghilang. Mengingat perjuangannya untuk melupakan Bintang. Namun tak kunjung bisa. Hingga ia tersadar, bahwa semakin ia berusaha melupakan cinta, maka ia akan semakin teringat dan merasakan luka. Bulan membiarkan perasaannya kepada Bintang. Apapun yang terjadi, ia memasrahkan kepada Tuhan. Bulan tetap mengingat Bintang, ketika ia berdialog dengan Tuhannya melalui sujudnya. Bertanya akankah Bintang masih mengingatnya?
Aneh memang, dalam pengabaian Bintang, Bulan masih menyimpan perasaannya. Dalam pengabaian Bintang, Bulan masih menyebut namanya dalam sujudnya. Bukankah itu yang dinamakan cinta?
Bulan duduk di bangku yang sama seperti tahun lalu. Tidak ada yang berubah. Semua masih sama. Hanya perasaan Bulan yang berbeda. Hampa.
masihkah kamu mengingatku? Kita berada di langit yang sama, tapi tak sejalan. Bagaimana bisa Bulan bersinar jika tak ada Bintang?” ucap Bulan. Lebih pada dirinya sendiri.
tak aka nada yang tau rencana Tuhan bukan?” ucap seseorang yang di belakang Bulan. Bulan menoleh dan mendapati Bintang sedang tersenyum kearahnya.
Bulan menemukan sinar teduh mata itu. Bukan amarah seperti tahun lalu.
Bintang? Kamu ngapain disini?” Tanya Bulan. Takjub tak percaya dengan apa yang ia lihat.
aku mengingat orang yang pernah menemaniku menangis dan tertawa. Orang yang  membuatku jatuh cinta. Kamu sendiri ngapain disini?” jawab Bintang, berjalan ke arah Bulan.
Pernah? Berarti sekarang nggak? Yah, memang yang dulu kau cintai bukan aku. Batin Bulan, sedih. Tapi, perasaan itu tetap tertutupi dengan senyum Bulan.
aku merindukan ‘Bintang’ku. Orang yang masih sangat kucintai.” Ucap Bulan akhirnya.
bisakah kita mulai dari awal lagi? tanpa dusta, tanpa pengkhianatan. aku nggak peduli kamu Bona atau Bulan. aku mencintai dirimu. yang selalu ada untukku” ucap Bintang, tulus.
Mau tidak mau Bulan tersenyum. Merasakan kebahagiaan. Bintangnya telah kembali.
iya. aku mau.” kata Bulan sambil mengulurkan tangan.
Bulan menyadari, bahwa cinta Bintang memang tulus untuknya. tidak peduli dia Bulan atau Bona. Terima kasih Tuhan, kau mengabulkan doaku. Mengembalikan ‘bintang’ku. Ucap Bulan dalam hati.
senja itu merek nikmati berdua. bukan dengan air mata. atau dengan amarah. tetapi dengan senyum bahagia. senja tak lagi membawa luka.

SKRIPSI: Lembar Persembahan :p

TERIMA KASIH KEPADA :

Allah SWT Sang Pemilik Hidup, untuk segala KerohimanNya meski saya selalu lalai..

Mama, mama, mama dan papa, doa dan semangat kalian selalu menyertai jalanku..

Adikku tersayang, yang selalu ngalah demi kakaknya..

Kakakku.. untuk segala kebaikan hatimu kuucapkan banyak terima kasih..

Mbak ana, untuk segala petuahnya, juga telah bersedia kurepotkan dengan segala pertanyaanku. Terima kasiiiih..

Mbak fatimah, makasih sekali untuk kursus singkat dan berbagi pengetahuannya..

Mbak ita, untuk segala semangat dan perhatiannya. Thanks so much juga..

Teman-temanku : rini, aeni, septi, yuni, diana. Terima kasih untuk pertemanan yang telah kalian berikan. Wulan untuk pinjaman bukunya..

Teman2 seperjuanganku : nurul, udin, anin, any, lulus, imro, caca, nukhan, pencapaian yang paling mengharukan adalah ACC dari dosen pembimbing :p

Genius 2009 : ah… terima kasih semuanyaaaa, sesuatu yang membanggakan bisa berkumpul dengan orang2 hebat seperti kalian..

Terakhir, untuk Tegar yang tak lekang oleh waktu, terima kasih untuk support yang pernah kamu berikan. Siapapun kita dulu, apapun kita hari ini, dan bagaimanapun kita nanti.. satu hal yang pasti, kita pernah menjadi teman..

Rabu, 12 Desember 2012

Aku..

Tuhan..
Boleh aku meminta?
aku minta kembalikan dia..
aku hanya menginginkan dia..

ku akui, aku bersalah..
aku tak mampu menerima takdirmu..
aku bersalah..
mencintai makhlukMu..
melebihi cintaku terhadap diriku sendiri..

semua bukanlah obsesi..
aku menyadari apa yang kulakukan..
aku menyadari apa yang ku inginkan..

aku memanflah pemenang..
pemenang dari permainan hati kami..
tetapi..
aku bukanlah juara..
aku tak bisa mendapatkan hatinya..
aku tak mampu menahannya..
untuk tetap berada disampingku..
disisiku..

ku sadari..
aku melupakan satu hal..
melupakan bahwa masih ada Tuhan..
yah, itulah aku..
aku lupa bahwa ada takdir..
yang tak mampu ku ubah..
itulah aku..

aku lupa..
bahwa aku hanyalah manusia..
yang bisa berencana..
tapi tak bisa menentukan..