“kamu
dimana?”
“kamu
balik arah, aku dibelakangmu. Pake baju ungu” jawab Bulan sambil
memberi tanda pada lawan bicaranya.
keringat
dingin mengucur. Detak jantung Bulan tak karuan menunggu kedatangan
Bintang yang tak kurang dari seratus meter. Bulan tak kuasa menahan
gugup, ia berbalik membelakangi Bintang yang kian mendekat dengan
gemetar.
“permisi”
sapa Bintang.
Bulan
tak menjawab, namun ia langsung menoleh ke sumber suara.
Bulan
bisa merasakan keterkejutan Bintang. Bulan takut. Tak ada kata yang
bisa keluar dari mulutnya, selain ‘maaf’.
Bulan
janjian bertemu dengan Bintang. Teman yang ia kenal semasa SMA dan
dekat dalam dua tahun ini. Pertemuan tak disengaja dunia maya.
Identitas Bulan yang samar. Mempertemukan cinta Bulan yang telah
tersimpan rapat selama ini. Tak pernah ada yang tau, hingga takdir,
berkonspirasi untuk membantu Bulan menyatakannya.
“maaf”
ucap Bulan. Hanya satu kata itu yang bisa diucapkan Bulan. Tak ada
yang lain. Memang hanya itu yang berputar di otaknya.
“kenapa
kamu melakukannya?” Tanya Bintang. Tenang. Namun penuh dengan
amarah.
Haruskah
aku menceritakan yang sebenar-benarnya? Tuhan… Bulan
bingung, akankah Bintang mau percaya? Atau dia akan marah?
“maaf
Bintang. Kamu marah?” Tanya Bulan takut.-takut
“nggak,
Cuma kecewa. Dua tahun itu gak lama, Lan” nadanya memang tenang.
Tapi mata itu, tak lagi teduh.
Glek.
Kalau bisa saat itu juga Bulan ingin pergi dari hadapan Bintang.
Mengerti bahwa ia telah mengecewakan orang yang ia sayang.
“kenapa
kamu gak jujur dari awal? Waktu kita awal kenal. Kenapa kamu
ngaku-ngaku sebagai Bona” Tanya Bintang lagi karena tak ada jawaban
dari Bulan.
Apakah
akan selama ini jika aku jujur dari awal?
Batin Bulan.
“aku
nggak ngku-ngaku sebagai Bona. Itu identitasku di ‘dunia’ itu.
Bahkan jauh sebelum aku mengenalmu. Kamu yang mencoba masuk dalam
duniaku. Menjebakku dalam dunia yang sebenarnya bukan duniaku. Dan
ketika aku menyadarinya, aku sudah nggak bisa lepas dari kamu” ucap
Bulan. Matanya memanas
“jadi
kamu menyalahkan aku? Mana bisa aku tau kalau dia adalah kamu. Aku
bukan paranormal yang bisa melihat sesuatu lebih dalam.” Ucap
Bintang. Geram.
“dan
aku juga bukan Tuhan yang bisa mengatur apa yang akan terjadi. Aku
hanya mengikuti kata hatiku. Mengikutinya tanpa bertanya kemana ia
membawaku.” Jawab Bulan. Gemetar menahan air matanya.
“dan
kata hatimu membawaku mempermainkan perasaanku? Hebat.” Bintang
sarkastis.
“aku
tidak pernah mempermainkanmu. Aku serius dengan perasaanmu. Aku
berbohong, aku akui itu. Tapi aku tak pernah membohongimu mengenai
perasaanku” ucap Bulan sambil menyeka bulir-bulir air matanya.
“maaf,
bagiku yang namanya teman akan tetap menjadi teman” ucap Bintang
akhirnya setelah lama terdiam. Sambil beranjak, meninggalkan Bulan.
“maafkan
aku. Aku yang bodoh. Membiarkanmu tersakiti olehku.” Isak Bulan
melihat kepergian Bintang.
"Aku merah dan kau kuning.
Kita bertemu menjadi jingga.
Menjadi warna senja yang terluka" (Bernard Batubara)
Senja itu, jadi mimpi buruk untuk Bulan. Harus merelakan orang yang ia sayang pergi. bahkan mungkin untuk selamanya. seseorang yang dulu menganggapnya sebagai Bona. Pernah mencintainya sebagai Bona. Bukan Bulan.
*
Setahun
kemudian…..
Bulan
berjalan menyusuri taman tempat bertemunya dengan Bintang setahun
yang lalu. Mengingat segala hal tentang
sosok
Bintang yang telah menghilang. Mengingat perjuangannya untuk
melupakan Bintang. Namun tak kunjung bisa. Hingga ia tersadar, bahwa
semakin ia berusaha melupakan cinta, maka ia akan semakin teringat
dan merasakan luka. Bulan membiarkan perasaannya kepada Bintang.
Apapun yang terjadi, ia memasrahkan kepada Tuhan. Bulan tetap
mengingat Bintang, ketika ia berdialog dengan Tuhannya melalui
sujudnya. Bertanya akankah Bintang masih mengingatnya?
Aneh
memang, dalam pengabaian Bintang, Bulan masih menyimpan perasaannya.
Dalam pengabaian Bintang, Bulan masih menyebut namanya dalam
sujudnya. Bukankah itu yang dinamakan cinta?
Bulan
duduk di bangku yang sama seperti tahun lalu. Tidak ada yang berubah.
Semua masih sama. Hanya perasaan Bulan yang berbeda. Hampa.
“masihkah
kamu mengingatku? Kita berada di langit yang sama, tapi tak sejalan.
Bagaimana bisa Bulan bersinar jika tak ada Bintang?” ucap Bulan.
Lebih pada dirinya sendiri.
“tak
aka nada yang tau rencana Tuhan bukan?” ucap seseorang yang di
belakang Bulan. Bulan menoleh dan mendapati Bintang sedang tersenyum
kearahnya.
Bulan
menemukan sinar teduh mata itu. Bukan amarah seperti tahun lalu.
“Bintang?
Kamu ngapain disini?” Tanya Bulan. Takjub tak percaya dengan apa
yang ia lihat.
“aku
mengingat orang yang pernah menemaniku menangis dan tertawa. Orang
yang membuatku jatuh cinta. Kamu sendiri ngapain disini?”
jawab Bintang, berjalan ke arah Bulan.
Pernah?
Berarti sekarang nggak? Yah, memang yang dulu kau cintai bukan aku.
Batin Bulan, sedih. Tapi, perasaan itu tetap tertutupi dengan senyum
Bulan.
“aku
merindukan ‘Bintang’ku. Orang yang masih sangat kucintai.” Ucap Bulan
akhirnya.
“bisakah
kita mulai dari awal lagi? tanpa dusta, tanpa pengkhianatan. aku nggak peduli kamu Bona atau Bulan. aku mencintai dirimu. yang selalu ada untukku” ucap Bintang,
tulus.
Mau
tidak mau Bulan tersenyum. Merasakan kebahagiaan. Bintangnya telah
kembali.
“iya. aku
mau.” kata Bulan sambil mengulurkan tangan.
Bulan
menyadari, bahwa cinta Bintang memang tulus untuknya. tidak peduli dia Bulan atau Bona. Terima
kasih Tuhan, kau mengabulkan doaku. Mengembalikan ‘bintang’ku.
Ucap Bulan dalam hati.
senja itu merek nikmati berdua. bukan dengan air mata. atau dengan amarah. tetapi dengan senyum bahagia. senja tak lagi membawa luka.