Halaman

Senin, 14 Mei 2012

kepergianmu - Vierra



"ku iringi langkahmu, sampai ke akhir jalan.. sungguh berat terasa, menyadari semua”

Masih teringat jelas, sore itu, 16 September 2011. Hari dimana aku merasakan kehilangan. Kehilangan seorang teman sekaligus orang yang paling ku sayang. Hari dimana janji yang pernah terucap hanya sebatas janji, yang ada hanyalah sebuah kalimat yang terasa asing, terasa menyakitkan, bahwa yang namanya teman akan selalu jadi teman, tidak akan pernah berubah. Sakit. Sakit banget. Melebihi rasa sakit dikhianati oleh orang yang kita cintai. Aku tak tahan berada di dekatnya terlalu lama, rasanya sesak, aku ingin menangis tapi ku tak bisa menangis didepannya. Setelah mengucapkan kata ‘perpisahan’, tangisku pecah di depan teman2ku. Aku tak peduli bagaimana orang2 melihatku, memandangku dengan rasa ingin tau. Karena bagaimanapun, mereka gak akan pernah tau bagaimana hancurnya perasaanku saat itu. Seorang teman bertanya, ‘apa yang kautangisi? Dia masih hidup, bisa bernapas, bisa tertawa’. Aku hanya bisa menjawab bahwa aku menangis karena aku telah menyakitinya. Rasanya begitu sakit melihat orang yang kita sayang terluka karena perbuatan kita sendiri.

“di saat terakhirku, menatap wajah itu.. terpejam kedua mata, dan terbang selamanya.. inginku mengejar dirimu, menggenggam erat tanganmu, sungguh ku tak rela”

Malamnya aku masih belum pulang, menunggu dia selesai sholat di sebuah masjid di depan taman. Disana, aku duduk di bawah pohon beringin yang gelap, menghindari tatapan orang2 yang melihatku sedang menangis. Setelah isya, dia keluar. Melewati taman dan berjalan beberapa meter di depanku. Tangis yang semula mereda, kembali pecah melihat sosok yang sangat kucintai, mungkin untuk yang terakhir kalinya. Ku ingin mengejarnya, tapi tak mungkin kulakukan karena ku tau, dia tak menginginkannya. Aku bingung, apakah yang kulakukan ini sudah benar meski berakibat aku kehilangan dia untuk selamanya? Atau suatu hal bodoh yang seharusnya memang dari awal tak pernah kulakukan untuk mencoba mengenalnya?

ku tau kau tak tersenyum, melihatku menangis.. maka sekuat tenagaku, kurelakan saat kepergianmu”

Pulangnya, kutekadkan untuk menangis semalam, berharap aku akan melupakan semua sakit karena kehilangan dia. Tapi tak semudah itu. Bingung. Terkadang aku merasa bahwa aku bisa hidup tanpa mengingatnya, aku bisa move on. Tapi, jika ku teringat dia, ku tak tau harus berbuat apa? Ku merasa ku tak pernah bisa pergi dari dia.

 “tak kan pernah kulupakan dirimu, tak kan sanggup kulupakan semua”

Tak kan pernah ku melupakanmu. Kau akan selalu hidup dalam ingatanku, kau akan tetap jadi Planktonku. Dan kau, akan tetap memiliki tempat terbaik  dihatiku.  tapabila kumerindukannya, ku pergi ke tempat itu, makan pa yang dia makan sore itu. maka perasaanku akan jauh lebih baik. Aku ikhlas kamu pergi, aku ikhlas kamu bahagia dengan orang lain. Tapi, ketika nanti kau secara tak sengaja mengingatku, kuharap kau sudah membukakan pintu maafmu untukku. Memaafkan semua kesalahan dan kebodohanku. Kuharap, kau masih mau menjadi temanku :)

2 komentar: