"ku iringi langkahmu, sampai ke akhir jalan.. sungguh berat terasa, menyadari semua”
Masih
teringat jelas, sore itu, 16 September 2011. Hari dimana aku merasakan
kehilangan. Kehilangan seorang teman sekaligus orang yang paling ku
sayang. Hari dimana janji yang pernah terucap hanya sebatas janji, yang
ada hanyalah sebuah kalimat yang terasa asing, terasa menyakitkan, bahwa
yang namanya teman akan selalu jadi teman, tidak akan pernah berubah.
Sakit. Sakit banget. Melebihi rasa sakit dikhianati oleh orang yang kita
cintai. Aku tak tahan berada di dekatnya terlalu lama, rasanya sesak,
aku ingin menangis tapi ku tak bisa menangis didepannya. Setelah
mengucapkan kata ‘perpisahan’, tangisku pecah di depan teman2ku. Aku tak
peduli bagaimana orang2 melihatku, memandangku dengan rasa ingin tau.
Karena bagaimanapun, mereka gak akan pernah tau bagaimana hancurnya
perasaanku saat itu. Seorang teman bertanya, ‘apa yang kautangisi? Dia
masih hidup, bisa bernapas, bisa tertawa’. Aku hanya bisa menjawab bahwa
aku menangis karena aku telah menyakitinya. Rasanya begitu sakit
melihat orang yang kita sayang terluka karena perbuatan kita sendiri.
“di
saat terakhirku, menatap wajah itu.. terpejam kedua mata, dan terbang
selamanya.. inginku mengejar dirimu, menggenggam erat tanganmu, sungguh
ku tak rela”
Malamnya aku masih belum pulang,
menunggu dia selesai sholat di sebuah masjid di depan taman. Disana, aku
duduk di bawah pohon beringin yang gelap, menghindari tatapan orang2
yang melihatku sedang menangis. Setelah isya, dia keluar. Melewati taman
dan berjalan beberapa meter di depanku. Tangis yang semula mereda,
kembali pecah melihat sosok yang sangat kucintai, mungkin untuk yang
terakhir kalinya. Ku ingin mengejarnya, tapi tak mungkin kulakukan
karena ku tau, dia tak menginginkannya. Aku bingung, apakah yang
kulakukan ini sudah benar meski berakibat aku kehilangan dia untuk
selamanya? Atau suatu hal bodoh yang seharusnya memang dari awal tak
pernah kulakukan untuk mencoba mengenalnya?
“ku tau kau tak tersenyum, melihatku menangis.. maka sekuat tenagaku, kurelakan saat kepergianmu”
Pulangnya,
kutekadkan untuk menangis semalam, berharap aku akan melupakan semua
sakit karena kehilangan dia. Tapi tak semudah itu. Bingung. Terkadang
aku merasa bahwa aku bisa hidup tanpa mengingatnya, aku bisa move on.
Tapi, jika ku teringat dia, ku tak tau harus berbuat apa? Ku merasa ku
tak pernah bisa pergi dari dia.
“tak kan pernah kulupakan dirimu, tak kan sanggup kulupakan semua”
Tak
kan pernah ku melupakanmu. Kau akan selalu hidup dalam ingatanku, kau
akan tetap jadi Planktonku. Dan kau, akan tetap memiliki tempat terbaik
dihatiku. tapabila kumerindukannya, ku pergi ke tempat itu, makan pa
yang dia makan sore itu. maka perasaanku akan jauh lebih baik. Aku
ikhlas kamu pergi, aku ikhlas kamu bahagia dengan orang lain. Tapi,
ketika nanti kau secara tak sengaja mengingatku, kuharap kau sudah
membukakan pintu maafmu untukku. Memaafkan semua kesalahan dan
kebodohanku. Kuharap, kau masih mau menjadi temanku :)
ahee...:D
BalasHapusini mksudx apa ya?
Hapusmenghina kesedihan saya bang? -_-