Halaman

Senin, 14 Mei 2012

Cinta yang ikhlas. Seperti apa?

Cinta yang ikhlas. Seperti apa?


Cinta yang ikhlas.
Ku ingin bercerita tentang arti cinta yang ikhlas.
Bukan. Bukan arti cinta yang ikhlas,
tapi bagaimana cara mencintai seseorang dengan ikhlas.
Dari pengalaman pribadi, akhirnya ku tau cara mencintaimu dengan ikhlas.
Jujur saja, nggak usah munak. Dulu ku mencintaimu dengan sangat tidak ikhlas.
Banyak menuntut. 

Menuntut untuk kamu ingat hari ulang tahunku,
dan disaat kamu hanya ingat saat hari ulang tahunku hampir habis, aku malah marah karena aku merasa kamu melupakanku,
padahal mungkin kamu memang tidak terbiasa dengan ulang tahunku di ‘tanggal’ itu. 

Menuntut agar kamu mau sms duluan atau membalas sms2 yang kukirimkan. 

Menuntut untuk mengconfirm friend requestku, bukan malah memblokirku, meski mungkin tujuanmu baik,
agar aku bisa sadar bahwa kau tidak ingin aku sakit hati jika suatu saat nanti aku tau kamu telah memiliki kekasih lain.
Mungkin.
Tapi ku tak pernah mau menyadarinya karena obsesiku yang begitu besar.
Obsesiku yang ingin sekali mengalahkan takdir bahwa aku bisa memilikimu dengan caraku sendiri.
Mungkin karena itulah Tuhan tidak mengizinkanmu untuk bersamaku. Kasihan di kamunya, yeah maybe.
 
Sekarang, aku mencintaimu dengan cara yang berbeda.
Mencintaimu secara ikhlas.
Ikhlas dan tidak menuntut apapun.
Ikhlas jika aku tak bisa memilikimu.
Ikhlas jika melihatmu tertawa bahagia bersama orang lain.
Aku mencintaimu, berarti aku senang melihatmu bahagia.
Bersama siapapun itu.

Dan benar.
Dengan cara seperti ini, aku sungguh bisa merasakan yang namanya bahagia karena cinta.
Meski ku tak bisa memilikimu.
Tapi tau kau baik2 saja.
Itu sudah sangat lebih dari cukup buatku.
Terima kasih Planktonku.
Karenamu aku bisa mencintaimu dengan cara yang dewasa.
Karenamu aku tau dimana kesalahanku.
Terima kasih telah mengajarkanku arti kedewasaan.

Aku minta maaf jika ku tak mengucapkan selamat dihari ulang tahunmu.
bukan ku lupa.
sama sekali NGGAK.
aku hany tak ingin mengganggu kehidupanmu lagi.
Saat kau memblokirku.
Aku berpikir kenapa kau melakukannya.
Bukannya aku nethink.
Aku hanya mencoba menerka isi kepalamu.
Hingga akhirnya aku menemukan suatu kesimpulan.
Jika kamu memang nggak ingin menyakitiku karena aku seringnya mengeluh
Kamu harus tega ‘membuang’ku dari hidupmu.
Dengan begini aku juga bisa mencoba untuk move on.

Dan yah, aku berhasil.
Hidupku jauh lebih baik dan lebih fokus.
Aku selalu berdoa kepada Tuhan.
Jika memang Dia berniat mempertemukanku denganmu lagi.
Aku ingin Dia mempertemukan kita saat kita sudah benar2 jadi ‘somebody’, bukan ‘anybody’ lagi.

Aku ingin mengucapkan maaf, terima kasih, dan selamat.
Aku ingin mengucapkan  maaf atas semua kesalahanku di masa lalu.
Aku ingin mengucapkan terima kasih karena kau telah mengubah pola pikirku.
Aku ingin mengucapkan selamat karena semua cita2mu telah tercapai.

Aku masih ingat tentang impianmu untuk melanjutkan S2 ke Jepang, jadi menteri kelautan dan perikanan, dan menemukan pendamping hidup yang benar2 sesuai dengan keinginanmu.
Aku ingin melihat kesuksesan itu melekat seluruhnya padamu.
Sehingga aku akan bangga.
Planktonku yang dulu manja, polos, baik hati, tapi agak sedikit nakal itu.
Telah menjadi lelaki dewasa yang sangat bertanggung jawab.

Aku mencintaimu di dalam doaku Plankton.
Terima kasih untuk lagu2 yang pernah kau nyanyikan dengan gitar itu.
May Allah olwez bless yu. Thanx for everything, positive thinking. Luph u soooo mach :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar